Jangan Membenci Jalan Allah ﷻ (Kebenaran) & Jangan Pula Menghalanginya

Jangan Membenci dan Menghalangi Jalan Allah (Kebenaran)
  • Save

Oleh : KH. Drs. Ali Muhson, M.Pd, M. Ag

Allah Ta’aalaa berfirman:

ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَصَدُّوا۟ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَـٰلَهُمْ – وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَءَامَنُوا۟ بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّـَٔاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ – ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱتَّبَعُوا۟ ٱلْبَـٰطِلَ وَأَنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّبَعُوا۟ ٱلْحَقَّ مِن رَّبِّهِمْ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَـٰلَهُمْ

Artinya: Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang bathil dan sesungguhnya orang-orang mukmin mengikuti yang haq dari Tuhan mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka (QS. Muhammad: 1-3)

Tafsir Ayat:
Dalam Tafsir Al-Muyassar, Kementerian Agama Saudi Arabia: Orang-orang yang mengingkari bahwa hanya Allah sematalah, Tuhan yang haq, tidak ada sekutu bagiNya dan menghalang-halangi manusia dari agamaNYa, Allah melenyapkan dan membatalkan amal-amal mereka, serta membuat mereka sengsara karenanya. Dan orang-orang yang membenarkan Allah, mengikuti syariat-Nya, membenarkan kitab yang Allah turunkan kepada Muhammad, dan ia adalah kebenaran yang tidak ada keraguan padanya dari Tuhan mereka, Allah memaafkan mereka, menutupi keburukan yang mereka kerjakan, tidak menghukum mereka karenanya dan memperbaiki kehidupan mereka di dunia dan akhirat.
Sebab penyesatan dan hidayah itu adalah karena orang-orang kafir itu mengikuti setan dan menaatinya, sedangkan orang-orang beriman menaati Rasulullah, serta membenarkan cahaya dan hidayah yang dibawanya.

Sebagaimana Allah menjelaskan per-buatanNya terhadap kedua kubu, pengikut kekafiran dan pengikut iman dengan apa-apa yang berhak mereka dapatkan, Allah juga membuat perumpamaan bagi manusia yang seperti mereka, sehingga setiap kaum dan setiap kubu bisa diindukkan dengan yang semisal dengannya.

Allah azza wajalla juga berfirman:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَتَعْسًا لَّهُمْ وَاَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ ( ٨ ) ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَرِهُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ( ٩ )

Artinya: Adapun orang-orang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.”
(QS. Muhammad: 8-9)

Tafsir Ayat:
Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H: Sedangkan orang-orang yang kufur terhadap Rabb mereka dan menolong kebatilan, maka mereka itu berada dalam kecelakaan, artinya, akibat dari perbuatan mereka serta kehinaan. “Dan (Allah) menghapus amal-amal mereka.” Artinya, Allah mengugurkan amal-amal mereka yang hendak menipu daya kebenaran dan dampak dari tipu daya itu pun kembali pada diri mereka sendiri, amal-amal mereka pun batal yang mereka kira mereka lakukan untuk mencari keridhaan Allah.
Penghapusan amal serta kecelakaan untuk orang-orang kafir itu disebabkan karena, “mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah,” yaitu al-Quran yang diturunkan oleh Allah sebagai perbaikan untuk hamba-hamba Allah dan sebagai keberuntungan untuk mereka, namun mereka tidak mau menerimanya, justru mereka murka dan benci terhadapnya, “maka Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.
Juga firman Allah Ta’alaa:
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمُ اتَّبَعُوْا مَآ اَسْخَطَ اللّٰهَ وَكَرِهُوْا رِضْوَانَهٗ فَاَحْبَطَ اَعْمَالَهُمْ ࣖ ( ٢٨ )

Artinya: Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka (QS. Muhammad: 28)

Tafsir Ayat:
Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H: “Yang demikian itu,” adalah azab yang mereka dapatkan disebabkan “karena sesungguhnya mereka mengi-kuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah,” seperti kekufuran, kefasikan, dan pembangkangan, “dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya,” sehingga mereka tidak memiliki kesenangan yang bisa mendekatkan mereka kepadanya.
“Sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka,” yaitu menghapuskan dan melenyapkan amal-amal mereka. Tidak seperti halnya orang-orang yang mengikuti apa pun yang mendatangkan keridhaan Allah serta membenci segala sesuatu yang bisa menimbulkan kemurkaanNya, orang seperti ini akan dihapus kesalahan-kesalahannya oleh Allah dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah.
Juga firman Allah Ta’alaa:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَشَاۤقُّوا الرَّسُوْلَ مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدٰى لَنْ يَّضُرُّوا اللّٰهَ شَيْـًٔاۗ وَسَيُحْبِطُ اَعْمَالَهُمْ ( ٣٢ )

Artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka (QS. Muhammad: 32)

Tafsir Ayat:
Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H: Ini merupakan ancaman keras bagi orang yang mengumpulkan semua keburukan mulai dari kufur terhadap Allah, menghalangi manusia dari jalan Allah yang Allah bentangkan untuk sampai kepadaNya, “serta memusuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka.”
Artinya, mereka memusuhi dan menentang petunjuk secara sengaja dan membangkang, bukan karena ketidak-tahuan dan tersesat. Mereka itu “tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikit pun.” Permusuhan dan penen-tangan mereka itu tidak akan mengu-rangi kekuasaan Allah, “dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka.”
Semua usaha yang pernah mereka lakukan dalam menolong kebatilan akan dihapus oleh Allah karena tidak mem-buahkan apa pun selain kerugian. Semua amal mereka yang diharapkan mendapatkan pahala tidak diterima Allah karena tidak memenuhi syarat amal yang bisa diterima.

Juga firman Allah Ta’alaa:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ثُمَّ مَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَهُمْ ( ٣٤ )

Artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka (QS. Muhammad: 34)

Tafsir Ayat:
Dalam Tafsir as-Sa’di, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H: Ayat ini dan ayat lain yang terdapat dalam surat Al Baqarah: 217

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat,” adalah sebagai pembatas kemutlakan semua nash tentang gugurnya amalan karena kekufuran. Yakni, gugurnya amal karena kekufuran dibatasi dengan kematian orang bersangkutan dalam kekufuran.

Dalam ayat ini Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir,” terhadap Allah, malaikat, kitab-kitab Allah, rasul-rasul Allah, dan Hari Akhir, “dan menghalangi” manusia “dari jalan Allah,” dengan cara mendorong mereka agar tidak menerima kebenaran dan diajak kepada kebatilan serta dihias-hiasi, “ kemudian mereka mati dalam keadaan kafir,” sebelum bertaubat, “maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka,” tidak dengan syafaat atau lainnya, karena Allah telah memastikan azab atas mereka. Mereka telah kehilangan pahala dan Allah telah mewajibkan mereka untuk kekal di dalam neraka, serta rahmat dari Allah Yang Maha Menyayangi dan Maha Mengampuni telah ditutup untuk mereka.

Makna tersirat dari ayat ini adalah bahwa jika mereka bertaubat dari kekufuran sebelum ajal menjelang, maka Allah akan mengampuni dan merahmati mereka, serta mema-sukkanm mereka kedalam surga, meski mereka menghabiskan usia dalam kekufuran dan menghalang-halangi

manusia dari jalan Allah serta melakukan berbagai kemaksiatan.

Mahasuci Allah yang membukakan pintu-pintu rahmat untuk para hambaNya dan tidak menutupnya dari seorang pun selama yang bersangkutan masih hidup dan masih mungkin bertaubat.

Mahasuci Allah Yang Mahasabar yang tidak menyegerakan siksaan bagi mereka yang durhaka, Allah justru mengampuni mereka dan memberi mereka rizki seolah-olah mereka tidak pernah mendurhakaiNya padahal Allah Kuasa untuk segera menyiksa mereka.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Shares
Share via
Copy link